Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Senin, 12 Januari 2026

Kegagalan itu datang lagi dan lagi



Masa iya setiap kegagalan aku harus menulis?

Setiap manusia mempunyai jatah gagalnya masing-masing. Dan, aku percaya itu. Bahkan, setiap detik kegagalan itu kerap datang bertubi-tubi. Mulai dari gagal memunculkan kata yang baik, membuat kalimat yang sempurna, sampai membentuk paragraf yang asyik. Nyaris aku gagal untuk memulai dan menyelesaikannya dengan baik.

Kegagalan itu datang menghantui ketika aku berada di kondisi yang nyaman, walaupun hanya sesaat. Ia begitu menggiurkan dan berhasil membuatku bermalas-malasan. Beberapa pekerjaan terbengkalai dan mungkin aku acuhkan.

Jika berhayal adalah sebuah prestasi barangkali berhayalku sudah mencapai rekornya. Aku sadar banyak berhayal membuat kepalaku sakit dan pikiran macet. Dan, malas terlalu membuatku semakin dekat dengan kegagalan.

Tiga paragraf di atas terlalu pesimis. Ya, begitulah adanya. Setelah semua hal tidak selamanya seperti yang direncanakan dan berakhir sia-sia. Namun, setelah tulisan ini selesai aku harus memformat ulang semuanya. Agar setiap kejadian, setiap pertemuan menjadi kenangan yang cukup dalam ingatan. Tak lebih. Mungkin cara ini cukup egois bagi sebagian orang, tapi tak apalah. Toh, kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyiannya masing-masing. 

Aku sedang bertarung dengan nasibku. Menjadi seseorang yang aku inginkan atau jatuh dalam kubangan kegagalan demi kegagalan. Tentu semua orang akan menghindari yang kedua. Namun, bagiku, hidup tak hanya sekadar untuk bertahan hidup. Setelah dapat bertahan hidup sejatinya manusia harus terus berbagi dan berbagi. Berbagi rejeki dalam bentuk apa pun. Meteri, pikiran, waktu, dan hal lainnya.

Terkadang aku bingung terhadap diriku sendiri, kenapa kegagalan itu sangat melekat dikehidupanku? Ada apa? Kenapa? Apa ada yang salah dalam diriku? Baru sebulan lalu aku gagal tes tahap akhir (wawancara) di salah satu perusahaan nikel di Maluku Utara, sekarang kegagalan itu datang lagi, aku gagal tes di bank BPD Kalbar. Sungguh menyedihkan dirimu, Fan. Ntah sampai kapan kegagalan datang lagi. Besok? Tahun depan? Ntahlah. 

Dan, mulai tulisan ini selesai, aku sedang berusaha keras mempersempit kesempatan untuk jatuh dalam kubangan kegagalan. Di masyarakat kita ini, kegagalan seringkali dianggap sampah! Dan sialnya, aku berada dalam struktur masyarakat seperti itu.

Maaf, tulisan ini terlalu banyak curhat. Tapi, bukankah setiap tulisan adalah tentang keresahan perasaan dan pikiran?

Pulang dulu ah, sudah malem. Besok-besok dilanjutin lagi ceritanya. Eh engga deng, engga akan ada lagi cerita kegagalan. Besok-besok kalau aku kembali ke sini pengen cerita yang senang- senang. Daaaaaaahhh


Ditulis: Fanny Indra Pratama




Kamis, 01 Januari 2026

Langit Gelap di Penghujung Tahun

 


Besok pagi, ibuku pasti sudah memasang kalender baru di dinding. Kalender yang dia dapatkan dari kantorku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibuku akan mengatakan bahwa kita harus bersemangat menghadapi lembaran baru, ataupun hal semacam itu.

Mirip dengan Ibuku, aku juga punya kebiasaan tiap tahun baru. Jariku mengetuk layar handphone, mengintip semua video recap kejadian yang teman-temanku alami di tahun lama. Mungkin, jika tidak malas, aku juga akan mencari template video recap di Capcut. Jika lebih niat, aku akan mengingat dan menulis pesan apa yang bisa aku ambil dari tahun kemarin. Jika sangat bersemangat, aku akan menulis semua yang aku inginkan dan apa yang aku ingin perbaiki dari diri aku.

Dan kalau kalian sudah membaca dua atau tiga paragraf di atas, mungkin kalian akan sadar bahwa aku memakai banyak kata ‘aku’. Dan, ya, memang benar, hampir di segala situasi aku hanya memikirkan diriku sendiri. Dan, ya, dapat ditebak, segala hal yang aku inginkan di tahun depan hanya berputar-putar di duniaku sendiri.

Sekarang, aku sedikit bingung. Maksudku, mengapa aku harus membatasi menyatakan permohonan dan harapan kepada diriku saja? Maksudku, tiap tahun, semua orang punya masalah dan bermasalah. Jadi, mengapa tidak berharap bahwa kita semua, kalau bisa satu dunia menjadi lebih baik? Toh, kita semua paham kita saling terhubung satu sama lain. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya menaruh harapan besar untuk seluruh dunia di tahun baru.

Tetapi, semakin dipikir aku tidak tahu apa yang aku harapkan di tahun baru, bahkan untuk diriku sendiri. Aku rasa harapan yang besar sudah tidak cocok untuk umurku sekarang. Mungkin semakin besar, aku sedikit paham bahwa aku pemegang kendali terbesar dalam hidupku. Mungkin ada baiknya harapanku, aku batasi sesuai dengan kemampuanku mengaminkan harapanku. Mungkin memang seharusnya harapanku hanya seputar ‘aku’ saja. 

Mungkin aku harus terus menyematkan kata ‘aku’ di tiap harapanku. Maksudku, ada perbedaan besar antara ‘aku berharap banyak untuk tahun baru’ dan ‘tahun baru penuh harapan’. Yah, aku tidak tahu kalian dapat melihat bedanya atau tidak. Tapi, aku yakin kalau itu berbeda!

Tetapi, aku merasa bersalah jika semua hal yang aku lakukan tentang aku saja. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri. Sudah berulang kali merasakan tahun baru, rasanya salah kalau tahunku habis untuk membeli wishlist yang aku kumpulkan sejak tahun sebelumnya, lalu mati.

Lihat! Ternyata keinginanku melakukan hal untuk orang lain datang karena (lagi-lagi) aku peduli dengan diriku lagi.

Hmm, mungkin memang akhirnya aku tidak bisa melepas diriku dengan duniaku seutuhnya. Mungkin tahun ini (lagi-lagi) hanya akan tentangku lagi. Mungkin juga harapanku tidak bisa menjangkau seluruh dunia.

Tetapi, mungkin harapanku bisa hadir di tengah-tengah orang di sekelilingku. Mungkin untuk menentukan batas seberapa aku boleh berharap, aku harus menemukan purpose untuk segala hal yang aku lakukan dan akan lakukan.

Atau entahlah!

Intinya, selamat tahun baru. 

Bengkulu, 31 Desember 2025


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Rabu, 24 Desember 2025

Selamat Natal

 


Semakin kamu menua, pohon Natal tidak sebesar dulu.

Tidak perlu mendongak saat melihat bintang di paling atas, kadang kali kalah tinggi denganmu.

Bergantian, sekarang giliranmu yang siapkan kado untuk mereka yang masih muda.

Yang melihat pohon Natal sembari mendongak dan berbinar.

Yang mengira Natal masih sekedar kelahiran Yesus dan libur sekolah semata.

Apapun pengalamanmu dengan Natal dan kepercayaanmu tahun ini.

Semoga rasa hangat dan magisnya tidak pernah hilang. 

Selamat Natal bagi yang merayakan..


Ditulis: Fanny Indra Pratama


Selasa, 23 Desember 2025

Hari ini hari aku dan Ibu

 


21 Desember 2025 

Sejak hari ini tema Hari Ibu mulai mengudara, berbagai event, berbagai slogan dan tulisan-tulisan melankolis muncul ke permukaan timeline sosial mediaku. “oh ya, besok hari ibu” gumamku. Haruskah aku melakukan sesuatu?

Jujur saja, aku bukan orang yang pintar dalam mengekspresikan cinta. Tapi aku pun tak ingin dianggap anak durhaka hanya karena tidak men-spesialkan Hari Ibu. Maka dari itu, semalaman suntuk aku berfikir keras hingga pada akhirnya, aku tetap terlelap ketiduran.

22 Desember 2025 

Ini hari H nya. Aku masih belum punya ide. Aku kembali mencari referensi :

- Melakukan tugas yg seharusnya Ibu lakukan dan membiarkan Ibu beristirahat. Ah halo! It wont’t work. Tahun lalu aku sudah mencobanya. Aku mengantikan lbu cuci baju, Ibu menjemur pakaian ku. Aku menawarkan bantuan membenahi lemarinya, Ibu membenahi lemariku. Aku bereskan dapur, Ibu membereskan dapur juga. Ya Ampun! Kurasa bahkan jika seluruh pekerjaan rumah aku ambil alih Ibu tetap akan melakukan sesuatu. Jangan jangan nanti Ibu ku akan menguras sumur? Mengelap genteng? Mengecat perkakas dapur? Bagi seorang ibu, melakukan sesuatu untuk keluarganya adalah kebahagiaan. Tak adil sekali jika aku hanya mencoba melakukan “sesuatu” semacam itu di hari ibu, bukankah menemaninya melakukan semua urusan rumah akan lebih menyenangkan? Harusnya. Faktanya aku tak serajin itu juga.

- Membuat makanan spesial. Aku langsung skip bagian ini. Ibuku lebih ahli memasak. Hanya dua kemungkinan yang akan terjadi : Satu, aku akan meracuni ibuku. Dua, aku akan di kritik habis habisan bak peserta master chef yang dianggap akan meracuni jurinya.

- Memberi tiket liburan ke Jogja atau Kota wisata lainnya. Aku cek dompetku, oke skip. Dalam hati aku berdoa “semoga tahun depan ya”

- Mengirim cerita, puisi, atau ucapan di sosial media. Aku sering mencobanya, bahkan dalam berbagai bahasa (bahasa novel, bahasa campuran Jepang-Indonesia, bahasa Bengkulu, bahasa Inggris, bahasa tubuh, bahasa isyarat) Ibu membalas ku dengan meme :



Entah didapat darimana meme itu. Ah! Pasti dari grup whatssap kawan sosialitanya.

Aku kehabisan ide. Sungguh. Lalu muncul bisikan di telingaku “Apa yang belum pernah kau lakukan pada Ibu?” Ah tentu saja banyaaaak sekali.

Hingga malam tiba, akhirnya aku tak sedikitpun membahas Hari Ibu. Malam itu seperti biasa, usai makan malam kami kembali ke kamar masing - masing.

23 Desember 2025 

“Bu, keluar atau jalan jalan yuk” ajakku random. Ada tanda tanya besar di wajah Ibuku. Tumben nih anak pulang kerja langsung ngajak jalan. Mungkin kira-kira itu yang dipikirkannya.

Aku sudah memutuskan, meskipun agak terlambat dan (sebenarnya) terlalu terlambat.
Di tempat makan Restoran Jepang, di tengah-tengah hening yang panjang, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bergumam pelan.

“Bu. Aku ingin curhat”

Ibu tiba-tiba tersenyum cerah. Maka hari ini runtuh lah seluruh benteng komunikasi antara aku dan Ibu.

Sejujurnya hari ini bukan hari Ibu. Akupun tidak sedang memperingatinya. Tapi, aku sedang mengingatkan diriku bahwa bekerja, memberikan sesuatu, dan melakukan sesuatu untuk ibu, memang perlu dilakukan. Hanya saja, sering menghabiskan waktu bersama pun tak ada salahnya untuk mulai dicoba.

Hari ini hari aku dan Ibu.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Sabtu, 20 Desember 2025

Kegagalan itu datang lagi




Aku tidak menyangka kembali lagi di titik ini. Titik di mana merasa kecewa dan tak tahu harus berbuat apa. Untuk ke dua kalinya aku gagal tes wawancara pekerjaan.

Saat lagi makan mie ayam di tempat langganan, tiba- tiba hp berdenting dan ku melihat ada notifikasi dari email. Setelah ku baca, aku tidak lolos tes tahap akhir (wawancara) di perusahaan pertambangan di Maluku. 

Bingung, harus berbuat apa. Segala upaya sudah dilakukan tapi hasil akhir selalu tidak berpihak ke diriku. 

Dari dulu aku tidak pernah suka ujian, tes, seleksi dll. Mau bentuk apapun itu. Ntah apa yang salah, tapi dalam ingatanku, hasil ujian selalu menempatkan aku sebagai orang yang biasa saja. Ujian untukku, terkadang hanya sebuah validasi bahwa aku tidak pernah bisa melampaui standar orang-orang.

Kenapa ya? Kenapa? Otakku selalu kurang, selalu ada informasi yang terlupa, atau bahkan tidak tahu, seakan-akan dunia ini terlalu luas, untuk diingat, atau mungkin otakku yang terlalu kecil untuk mengetahui informasi yang ada di dunia ini? Aku lelah sekali selalu seperti ini. Kenapa orang lain bisa, sedangkan aku tidak bisa? Kenapa ya?

Di dunia yang semakin tidak adil ini, rasanya takut sekali tidak bisa bersaing. Dunia bergerak semakin cepat, hal baru terus berdatangan. Dengan kemampuan yang hampir selalu gagal, apa aku bisa bertahan?


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Rabu, 03 Desember 2025

Sebuah Pesan Buat Anakku Nanti


Nak, sini, duduk dulu bentar, ada yang ingin Ayah omongin sesuatu ke kamu. Beberapa malam ini tiap lewat kamarmu Ayah sering dengar kamu lagi telfonan sama seseorang sampai dini hari. Kalau Ayah boleh tahu kamu sedang telfon sama siapa? 

Engga usah takut, cerita aja, Ayah tidak akan memarahimu. 

“Aku lagi dekat sama perempuan, yah. Dia temen kelasku. Baru seminggu lalu mulai komunikasinya”

Ohh gitu, baiklah, besok-besok kalau kamu menyukai seorang perempuan, tidak apa-apa bila Ayah tidak tahu, karena mungkin kamu belum siap mengatakannya. Ayah juga mengerti, kamu sudah umur 17 tahun, sudah memasuki masa remaja. Ayah hanya berpesan agar jangan sembarangan mengutarakan perasaanmu itu kepadanya. Kalau kamu mau mengutarakannya, maka kamu wajib mengabarkannya dahulu kepada Ayah dan Ibu. Karena perkara itu bukan main-main.

Bila kamu merasa belum cukup kuasa mengatakannya. Maka jagalah dia seperti kamu menjaga perasaanmu sendiri. Jangan sekali-kali menyebut namanya sembarangan. Itu bisa menjatuhkan kehormatannya. Itu bisa menjatuhkan perasaannya dan membuatnya berasumsi tentangmu. Kamu perlu ingat itu.

Kamu boleh diam untuk menyusun rencana, tapi tetaplah bergerak. Karena cinta itu energi yang luar biasa untuk melakukan banyak hal baik.

Mudahkanlah urusannya diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Kamu tidak usah tampil bagai pahlawan yang seolah-olah selalu ada ketika dia butuhkan.

Sembunyilah di tempat yang aman, tapi selalu terjaga untuk membuatnya tetap aman.

Mudahkanlah urusannya, bantulah dia menyelesaikan masalahnya diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Doakan dia dengan cara-cara yang ahsan.

Ayah percaya dengan itu kamu akan menjadi orang pertama yang bahagia karena dia bahagia. Karena, satu kesalahan besar laki-laki yang Ayah tahu adalah mengatakan perasaannya tapi tidak siap untuk mengikatnya.

Kamu anak laki-laki ayah, Ayah akan marah jika kamu menyakiti hati seorang perempuan. Ingat ya nak. Menyakitinya berarti sama saja dengan menyakiti ibumu.


Ayahmu, Fanny Indra Pratama

Sabtu, 29 November 2025

Kembali lagi ke sini




Percayakah kalian tentang takdir? Tentang garis takdir yang dengan sempurna disusun oleh Tuhan, dengan berbagai skenario tak terduga di dalamnya, kemudian menjadi suatu benang merah di kehidupanmu.

Aku sangat percaya dengan permainan takdir ini. Jika aku boleh katakan, takdir ini lucu. Dunia ini kadang suka bercanda. Atau mungkin, Tuhan memang sangat periang dan bercanda adalah kegemarannya.

Aku yakin di setiap pertemuanku dengan orang-orang di dunia adalah jalan takdirku yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Tuhan. Entah bertemu dengan teman, guru, dosen, atau bahkan orang asing yang lewat seperti pengendara motor yang sedang menunggu penumpang disebelahku.

Semua punya maksud dan tujuan yang mungkin akan kuketahui nanti di kemudian hari. Tidak beda halnya dengan kamu. Bertemu denganmu untuk kedua kalinya adalah salah satu dari sekian skenario hebat buatan Tuhan. Kukatakan hebat karena sejak pertemuan pertama itu, kamu berhasil mengubah duniaku seutuhnya.

Tapi, kehadiranmu sudah ditetapkan untuk bertahan di garis takdirku. Kita bertemu kembali setelah 5 bulan dalam waktu yang panjang. Kamu masih seperti yang dulu saat pertemuan kita yang pertama. Tidak ada yang berubah, yang ada kamu jadi tambah cantik dan ingin memeluk erat-erat. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa pertemuan pertama yang katamu lucu itu membawamu menjadi bagian dari hidupku.

Kini, aku kembali percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana terbaik. Hal yang membuatku bisa kepikiran semalaman dan kulakukan setiap malam, sekarang sirna begitu saja ketika aku bertemu kamu.

Kehadiranmu di hidupku adalah sebuah hadiah sebagai penghargaan untukku yang telah susah payah bangkit dari keterpurukan. Bertemu untuk kedua kalinya denganmu adalah sesuatu yang tidak pernah kuduga.

Kota Kupang menurutku bukan hanya sekedar kota biasa, tapi sudah ku anggap seperti kota keduaku. Di kota inilah aku bisa merasakan hal indah yang belum pernah aku rasakan. Aku sangat nyaman berada di kota ini. Tapi berada di dekatmu membuatku lebih nyaman. 

Kehadiranmu memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak pernah kurasakan. Mungkin, rasa nyaman itu sengaja diberikan Tuhan lewat Kota ini dan sosokmu, agar aku belajar di dunia ini aku bisa merasa lengkap dengan seseorang.

Dan mungkin sekarang Tuhan sedang memberikanku pelajaran yang lain melalui kamu. Aku tidak tahu apa lagi, karena bagiku rasanya sudah cukup belajar tentang melepaskan seseorang yang kusayang selama ini.

Semoga kali ini, aku tidak perlu belajar lagi tentang materi yang sama dari kamu, ya.
Dan kuharap, semesta mendukung kita untuk tetap saling berdampingan setelah sekian lama kita akhirnya saling menemukan.

Terima kasih, Kota Kupang, terima kasih untuk ceritanya. Sampai jumpa..


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Minggu, 23 November 2025

Bahagia selalu kawanku


Astaga, bahagia betul tiap ada kawan baik menikah. Satu cinta kasih lagi mekar dan kasil, bahwa ternyata di dunia yang rumit dan serba kelabu akan selalu ada hal-hal yang bisa dijanjikan. Sampai jadi debu, Pak Jay dan Istri..


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Sabtu, 22 November 2025

Surat Cinta Buat Anakku

 


Nak, mungkin saat kamu membaca surat ini, kamu sudah menjadi seseorang yang hidup di dunia penuh logika dan teknologi. Kamu bisa melihat manusia-manusia bergantungan dengan dunia digital yang canggih, kode dengan cekatan, merancang sistem dengan rapi, dan mengelola waktu seolah semuanya bisa diatur dengan algoritma. Tapi hari ini, Bapak ingin bicara bukan tentang teknologi. Melainkan tentang kehidupan dan cinta. Karena, pada akhirnya, cinta juga butuh logika, dan logika juga butuh cinta.

Bapak pernah muda, Nak. Pernah merasa dunia ini sesempit layar monitor, dan cinta seindah interface yang baru dirancang. Dulu Bapak pikir, cinta itu bisa dikompilasi seperti pertandingan sepak bola, cukup dengan latihan, usaha dan kerja keras, maka akan menang. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Cinta, adalah sistem yang tak punya dokumentasi lengkap, Nak. Kadang kamu harus menebak fungsinya, mengulang prosesnya, dan memperbaiki apa yang salah. Dan bapak pernah gagal, bukan karena kurang cinta, tapi karena kurang sabar.

Bapak pernah mencintai seseorang dengan terburu-buru, terlalu yakin versi awal hubungan kami sudah sempurna. Seperti penyerang yang berhasil mencetak double hattrick ke gawang rival dalam satu pertandingan. Nyatanya dalam sepak bola pemain terbaik tidak bisa langsung dinobatkan dalam satu pertandingan, Bapak dulu melangkah cepat karena ingin segera “jadi”. Tapi waktu mengajarkan, bahkan
Sepak bola paling indah pun bisa kalah kalau tidak disertai dengan kerja cerdas.

Ketika masalah datang, bukannya khawatir dengan hati dingin, Bapak justru menambah masalah dengan emosi. Hingga akhirnya, hubungan itu crash. Bukan karena dia buruk, tapi karena Bapak belum belajar menunggu.

Itulah, Nak, pentingnya kesabaran. Dalam Sepak bola maupun cinta, kemenangan terbaik lahir dari proses yang sabar dan kerja keras. Seperti build serangan yang memakan waktu, begitu pula hati yang sedang belajar. Jangan takut jika cintamu belum berjalan mulus, mungkin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik. Kata legenda sepak bola Argentina, Diego Maradona “Belajarlah dari sepak bola, ketika tim itu menang dan berhasil juara, itu karena kerja keras. Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan”.

Kenalilah duniamu sebagaimana kamu mengenali dirimu. Lakukan apa yang buat kamu senang. Temukan di mana ego bersembunyi, perbaiki logika cintamu yang salah arah. Dalam cinta, kadang yang perlu diperbarui bukan pasangannya, tapi kepercayaan dalam diri sendiri. Jangan mencari cinta yang sempurna, tapi belajarlah menulis cinta yang jujur.

Hidup juga seperti jaringan, Nak. Setiap hubungan adalah connection yang perlu dijaga kestabilannya. Kadang sinyalnya kuat, kadang hilang. Jangan cepat memutuskan disconnect hanya karena gangguan kecil. Tunggulah, perbaiki sinyalnya, komunikasikan masalahnya. Karena cinta sejati bukan tentang koneksi yang selalu lancar, tapi tentang dua orang yang sama-sama mau memperbaikinya ketika lag.

Dan jangan mudah tergoda oleh tampilan luar. Dunia penuh ilusi, entah itu antarmuka aplikasi yang indah tapi kosong, atau senyum manis yang tak sepenuh hati. Cinta sejati, Nak, bukan tentang siapa yang paling memukau di layar, tapi siapa yang tetap tinggal di sistemmu meski semua sedang down.

Bapak ingin kamu belajar dari kesalahan Bapak. Cinta yang terburu-buru hanya meninggalkan tumpukan khawatir di hati. Tapi dari situlah Bapak belajar tentang makna sabar bahwa cinta yang benar bukan tentang ingin segera memiliki, melainkan tentang berani memperbaiki dan menunggu waktu yang tepat untuk berjalan berdua lagi, tanpa crash.

Dan di atas semua itu, jangan lupa bahwa cinta sejati bersumber dari Tuhan. Seperti captain utama yang menopang seluruh pemain di dalam tim, cinta kepada-Nya adalah fondasi paling kuat. Jika fondasimu kokoh, kamu tak akan mudah rusak meski dunia seakan runtuh tanpa tersisa apapun.

Teruslah belajar, Nak. Upgrade ilmumu, tapi jangan lupa upgrade hatimu juga. Dunia akan terus berubah, tapi nilai-nilai sabar, jujur, dan kasih sayang akan selalu kompatibel dengan setiap zaman. Ingatlah, hati yang sabar adalah firewall terbaik dari kekecewaan.

Bapak, mu
Fanny Indra Pratama


Rabu, 01 Oktober 2025

Selalu ada do'a baik di bulan Oktober



Aku selalu berdoa kepada Tuhan tentang baik baikmu, semoga selalu dicintai banyak orang, selalu besar dan selalu menyertai. 

Aku selalu berdoa agar terbangmu ditinggikan.

Agar kamu bisa menggapai bintang yang selama ini kamu dambakan.

Agar kamu bisa setara dengan indahnya, memukau setiap pasang mata.

Aku juga selalu berdoa agar terbangmu tak lupa jalan pulang. Kembali ke bumi dengan cerita indah mengenai bintang dan hal lain yang ada di angkasa sana. Agar kamu bisa membagikan bahagia pada semua.

Kepada Oktober,
Tak hentinya aku mengagumi setiap yang kamu lakukan, selalu memukau selalu membanggakan.

Setiap usaha, setiap pengorbanan, setiap tangis, setiap tawamu.

Aku bingung, kalimat pujian apalagi yang harus aku keluarkan ketika melihatmu.

Aku selalu merapal doa, doaku menjadi paling keras dalam kedapnya luar angkasa.

Kepada Oktober,
Semoga doa-doa baik yang aku, kamu, dan kita rapal dikabulkan oleh sang Pencipta.
Semoga dalam satu tahun yang akan datang dan seterusnya.

Harimu penuh arti dan dipenuhi hal yang membuatmu selalu mengucap syukur.

Dipenuhi kebaikan, dipenuhi keberuntungan, dipenuhi kebahagiaan.

Terima kasih telah bertahan dalam suka duka kehidupan.

Terima kasih telah menghadapi segala macam pelajaran menjadi dewasa.

Terima kasih telah menyebar bahagia,
Terima kasih telah menjadi Kamu, Oktober. 

Dirgahayu, Fanny Indra Pratama. Kita rayakan malam ini. 

Ditulis: Manusia paling keren setongkrongan Anggut.

Sabtu, 20 September 2025

Tiup lilin akan membuatmu ingat yang bersinar kelak akan pudar

 



Sebuah pesan untuk Zea ketika sudah bisa membaca.

Zea, suatu hari kamu akan menemukan sesuatu yang ketika kamu melakukannya, matamu berbinar bercahaya, energimu bertambah berkali lipat, dan ketika selesai melakukannya, hatimu tenang, senang tidak kepalang, karena kamu menjadi bagian dari sesuatu itu.

Itu bisa datang dalam berbagai wujud. Mungkin dalam bentuk pekerjaan yang terasa seperti panggilan jiwa, bukan sekadar rutinitas. Mungkin dalam bentuk hobi yang membuatmu lupa waktu, atau peran yang membuatmu merasa dibutuhkan dan bermakna. Kadang ia hadir melalui hal-hal sederhana: membantu orang lain, membuat sesuatu dengan tanganmu sendiri, atau belajar hal baru yang menantang pikiranmu.

Saat kamu menemukan hal itu, dunia akan terasa berbeda. Lelah tetap ada, tapi lelahnya membawa rasa puas. Tantangan tetap muncul, tapi kamu akan melihatnya sebagai bagian dari permainan yang ingin kamu taklukkan, bukan rintangan yang ingin kamu hindari. Dan anehnya, bahkan saat kamu gagal, kamu tetap ingin mencoba lagi, karena di dalamnya ada percikan yang membuat hidup terasa penuh warna.

Untuk sampai ke titik itu, jangan takut mencari. Cobalah hal-hal baru, berani keluar dari zona nyaman, dan izinkan dirimu bertemu orang-orang dengan latar yang berbeda. Ada kalanya perjalanan ini berliku, membuatmu ragu, bahkan lelah secara fisik dan batin. Ada pula saat-saat kamu merasa tersesat, bertanya-tanya apakah semua ini sepadan. Percayalah, setiap langkah yang kamu ambil, bahkan langkah yang terasa keliru, akan mengarahkanmu pada pemahaman yang lebih dalam tentang siapa dirimu dan apa yang membuatmu hidup.

Ze, yang perlu kamu ingat, jangan biarkan kegagalan membuatmu berhenti. Gagal hanya tanda bahwa kamu sedang berusaha. Dan berusaha adalah cara terbaik untuk memberi kesempatan pada hidup untuk menunjukkan jalannya. Kadang kamu menemukan yang kamu cari di tempat yang tidak terduga, atau melalui proses yang awalnya tidak kamu rencanakan.

Saat kamu menemukannya, jagalah. Jangan biarkan rutinitas memadamkan nyalanya. Rawat semangatmu seperti merawat tanaman: beri waktu, perhatian, dan pupuk yang tepat. Biarkan hal itu menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi masa-masa sulit, dan sumber kebahagiaan untuk dibagi kepada orang lain.

Gunakan rasa itu untuk menebar kebaikan, untuk membuat dunia sedikit lebih hangat karena kamu pernah ada di dalamnya. Di tengah segala kesibukan, ingatlah bahwa waktu adalah bahan bakar yang terbatas. Maka, gunakanlah untuk hal-hal yang benar-benar membuat hidupmu berarti.

Karena di akhir nanti, yang akan membekas bukan berapa lama kamu hidup, melainkan seberapa dalam kamu benar-benar hidup di setiap momen yang membuat matamu berbinar itu.


Selamat ulang tahun, Zea. Semoga Zea tidak hanya menemukan hidup, tetapi juga menemukan hidup yang benar-benar menghidupkanmu. Om selalu percaya, ketika mata kamu berbinar, dunia pun ikut bercahaya..

Ditulis: Fanny Indra Pratama