Beberapa minggu terakhir, aku sedang mencoba menikmati hidup dengan cara yang lebih realistis. Tidak lagi mengawang-awang ingin jadi versi sempurna dari manusia. Tidak lagi berharap hidup penuh kejutan seperti sinetron Ramadhan yang tayang sebelum buka puasa. Aku hanya ingin hidup dengan tenang, sederhana, dan cukup makan tiga kali sehari plus sesekali jajan ramen.
Awalnya terasa ringan. Hidup tanpa harus sibuk menguliti perasaan atau menulis panjang-panjang soal rindu dan cinta. Tapi belakangan, entah kenapa, aku merasa penuh. Penuh seperti ember yang dibiarkan menampung hujan terlalu lama. Penuh sampai isinya malah terasa kosong. Maka aku menulis, bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri dari pikiran yang terlalu ramai.
Aku membaca kembali tulisan-tulisan lama. Banyak di antaranya berbicara tentang perasaan, percintaan dan pernikahan. Tiga topik yang konon katanya adalah puncak dari kehidupan orang dewasa. Aku juga pernah percaya itu. Bahwa cinta dan ijab kabul adalah tujuan akhir dari segala pencarian. Tapi sekarang aku ragu. Bukan karena aku putus asa, hanya saja aku mulai sadar bahwa hidup ini terlalu besar kalau hanya dipadatkan ke dalam tiga kata itu saja.
Aku melihat di sekeliling. Ada anak muda yang merasa rendah diri karena belum pernah pacaran, seolah-olah cinta adalah mata kuliah wajib sebelum bisa lulus jadi manusia utuh. Ada orang tua yang gelisah karena anak gadisnya belum menikah di usia 25, padahal gadis itu baik-baik saja. Ada pula orang yang terus ditekan dengan pertanyaan, "Kapan nikah?" seakan-akan jawabannya akan membukakan pintu surga.
Semuanya seperti komedi yang tidak terlalu lucu. Tapi karena terus diulang-ulang, akhirnya bikin capek juga. Seolah-olah hidup ini punya manual book dari masyarakat, dan kalau kita tidak sesuai, langsung dicap error.
Entahlah. Makin ke sini, aku merasa hidup ini lebih besar dari sekadar cinta-cintaan atau urusan nikah-menikah. Lihat saja kondisi Indonesia sekarang. Rasanya jauh lebih mendesak. Karena anak hasil pernikahan hari ini, tiga puluh tahun lagi bisa jadi sedang mencari tempat tinggal yang tidak dipenuhi pohon sawit. Tapi ya, terlalu mikir jauh ke depan juga bisa bikin sakit kepala. Aku sadar, aku ini bukan ilmuwan atau aktivis lingkungan. Aku cuma orang biasa yang lagi bingung cari tambahan pemasukan.
Ya, akhir-akhir ini, aku memang lebih sering mikirin uang. Bukan karena aku matre, tapi karena aku waras. Aku masih kerja di bumd, masih ikut jam kantor, masih ikut arus. Tapi tetap saja aku bingung uang itu sembunyi di mana. Kayak main petak umpet, tapi ku lupa siapa yang ngajak main.
Rutinitasku nggak jauh-jauh amat: pulang kerja, makan, mandi, ngantuk, kadang-kadang main ps. Lalu mikir, "Masa iya hidup cuma segini doang?" Tapi begitu mau mikir lebih dalam, malah ketiduran. Jadi ya sudah, hidup tetap berjalan. Rasanya seperti menonton film yang tidak aku pilih, tapi aku sudah terlanjur duduk di barisan tengah, dan tiketnya tidak bisa di-refund.
Masa depan itu memang kejam. Kalau kamu tidak siap, dia tidak cuma ngetok pintu, dia bisa langsung dobrak dan nyeret kamu keluar sambil ngomel, "Kamu ngapain aja selama ini, Fan?"
Ditulis: Fanny Indra Pratama














