Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Selasa, 22 September 2026

Berdoa di malam menjelang subuh

 


Kalau jalan yang kutempuh ini masih panjang, Tuhan. Boleh nggak, kau potong jalurnya dikit aja? Soalnya aku capek, beneran capek. Bukan yang capek biasa, ini tuh kayak colokan yang longgar, nggak benar-benar mati, tapi juga nggak nyala-nyala.

Kalau memang harus tetap jalan, yaudah. Tapi tolong kuatkan iman ku, kuatkan kaki ku Tuhan, agar aku bisa melewati ini semua.

Tuhan…
Kalau ujung perjuanganku bukan di tempat yang sekarang kutuju, tolong beri petunjuk. Jangan biarkan aku mencintai sesuatu yang justru kau rancang untuk kulepaskan. Aku terlalu sering berharap pada hal-hal yang bahkan tak pernah berharap padaku.

Dan satu lagi, sehatkan aku. Sehatkan juga orang tuaku. Mereka bukan tipe orang tua yang minta anaknya jadi apa-apa. Mereka cuma ingin aku baik-baik saja dan bisa pulang dengan wajah yang nggak kelihatan lesu.

Berikan mereka sabar yang nggak habis-habis dan bahagia yang walau kecil, cukup untuk mengganjal rindu mereka hingga aku sampai. Aamiin.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Selasa, 15 September 2026

Pergi Untuk Kembali

 



Malam itu, malam yang paling aku tunggu. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa menemui pacarku. Meskipun drama delay pesawat yang sangat menjengkelkan tapi rasa itu akan hilang ketika bertemu dengannya. Aku sudah berada di Bandara El Tari. Perlahan kaki ku menuju pintu keluar kedatangan. Udara malam yang dingin menyambutku, membuat badanku perlu kehangatan untuk dipeluk, dan aku merogoh saku celana untuk mengambil ponselku. Tidak lama kemudian, suara notifikasi telfon masuk, dan aku tidak sabar untuk mengangkatnya. 

"Seng, kamu di mana? Aku sudah di depan." Senyumku langsung mengembang begitu aku mendengar suaranya. "Iya, aku sudah di dalam bandara, sebentar lagi keluar." Jawabku. 

Ya, tujuan aku datang ke sini sudah jelas, yaitu untuk bertemu dengannya. Dia yang sudah lama aku rindukan, dia yang membuat aku tanpa berpikir untuk datang kesini ketiga kalinya. Ya ini jadi pertemuan kami ketiga kalinya. Kalau ditanya alasannya ya aku jawab dengan lantang karena "Cinta". Pertemuan ketiga kali ini akan ku maksimalkan waktunya dan  sepenuhnya untuk kami berdua. Mungkin kami hanya akan jalan-jalan seputaran Kota Kupang atau berjalan kaki ke restoran terdekat, tapi apa pun itu, yang penting adalah kami bersama. Aku membayangkannya dan tidak bisa berhenti tersenyum.

Tidak lama kemudian, aku keluar dari pintu kedatangan dan melihat satu sosok wanita yang selama ini nemenin hari-hariku. Ya, itu dia, Felia. Akhirnya, setelah sekian lama, hari ini tiba. Aku melambaikan tangan dengan penuh semangat saat melihat felia berdiri dengan ciri khas senyumannya. Aku peluk dan mencium pipinya. Matanya menatapku dengan senyumnya. Senyum yang selalu membuat hatiku berdebar-debar.

"Gimana perjalananmu tadi? Lancar sajakah?" Tanyanya

"Puyeng seng, capek juga. Delaynya keterlaluan. Tapi sekarang sudah engga capek lagi, kan sudah ada kamu" Jawabku

"Bisa aja Sumanto", Jawabnya dengan ketawa 

Ia menggandeng tanganku dan menuntun aku keluar dari bandara. Di dalam mobil aku hanya melihat dia berbicara. Sejak terakhir pertemuan kita tidak ada yang berubah dari dia. Semuanya tetap sama. 

Hari-hariku di Kota Kupang selalu bersama dia. Pagi, siang dan malam. Anterin dia kerja ke kantor BRI, sorenya ketika matahari terbenam menjemput dia pulang kerja. Siklus itu yang membuatku merasa nyaman dan seneng. Ini seperti pasangan suami istri yang baru menikah. Aminin aja ya seng hehe. 

Waktu terus berlalu. Di Jumat siang, aku bersama Felia dan teman-temannya pergi ke pantai. Kita ngecamp di sana. Kita menikmati keindahan sunset dan sunrise terbaik di Kupang. Kita banyak mengabadikan momen berdua. Hari itu hari menyenangkan buat aku dan Felia. 

"Seng, terima kasih ya sudah ngajak aku kesini." 

"Iya sayang, lihat kamu senang aku juga senang."

Setelah pulang dari kita ngecamp. Perasaan ini terasa berat. Dua hari lagi aku kan pulang ke Kotaku, Bengkulu. 

Melihat dia dengan sedihnya membuat aku tidak kuat menahan rasa tangis ini. Ini ketiga kalinya aku bertemu dengannya tapi di pertemuan ini yang paling berat untuk kita berdua. 

"Kita tahun depan masih bisa bertemu lagi kan?" Dia membuka percakapan dengan nada yang berat. 

"Belum tahu sayang, tapi aku selalu mengusahakan untuk kita bertemu tahun depan." Jawabku dengan nada yang sama seperti Felia. 

"Aku tidak kuat kita seperti ini, aku tidak kuat seng. Berat banget mau lepasin kamu. Siapa lagi yang temenin aku pergi dan pulang kantor? Siapa lagi nemenin aku makan? Siapa lagi yang bilang rambut ku harum? Siapa lagi seng? Ayolah seng, jangan jauh-jauh terus. Tidak kuat seperti ini" 

Mendengar penjelasan itu aku langsung meneteskan air mata dan memeluknya. 

Dia berkata lagi "aku ingin bertemu denganmu setiap hari" jawabnya dengan tangisan yang buat aku tidak kuat merasakan ini. 

"Iya sayang, doakan aja ya kalau ada rezeki lebih nanti aku bakal kembali kesini. Aku usahakan tiap tahun kita bertemu ya, aku usahakan itu." Jawabku dengan nada yang lembut. 

"Beneran ya kamu bakal kembali lagi kesini?" Tanyanya dengan nada yang menyakinkan. 

"Iya sayang, aku usahakan itu ya. Sudah jangan bersedih lagi. Sini aku peluk"

Jam 12.05 di bandara jadi pelukan terakhir aku untuk Felia. Pelukan terakhir di tahun ini. Kita mengungkapkan rasa emosional kita satu sama lain. 

Aku menarik napas dalam - dalam, aku menatapnya dengan penuh harap "tunggu aku ya seng, sabar terus ke aku, tahun depan aku akan kembali ke sini, aku janji."

Dia tersenyum "iya sayang, kita pasti akan bertemu lagi."

Setelah langkah kaki ini meninggalkan dia, aku merasa sedikit lega, meskipun tidak tahu bulan berapa aku akan kesini lagi, tapi aku percaya tahun depan kita akan bertemu lagi. 

Terima kasih Felia, untuk kebaikan mu selama aku di Kota Kupang. Semoga pertemuan berikutnya jadi pertemuan terakhir kita sebagai "Pacar" 

Love you


Ditulis: Fanny Indra Pratama







Selasa, 18 Agustus 2026

Selama aku hidup, aku akan tetap menulis

 


Pada saat kita lagi kumpul keluarga di rumahku, ada satu pertanyaan yang datang dari sepupu. Dia menanyakan kenapa aku suka menulis. Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil dan menjelaskan karena di antara semua hal yang bisa hilang, kata-kata adalah satu-satunya yang bisa aku selamatkan. Menulis adalah cara bertahan. cara mengurangi benang kusut dikepala yang tak bisa dijelaskan dengan suara. 

Aku menulis karena ada hal-hal yang terlalu berat untuk dibicarakan, tapi terlalu penting untuk dibiarkan membusuk di dalam dada. menulis memberiku ruang untuk jujur, bahkan saat dunia menuntutku untuk baik-baik saja. Di tulisan, aku tak perlu tertawa kalau sedang hancur, tak perlu menjelaskan kenapa aku diam, tak perlu minta maaf karena merasa terlalu banyak kesalahan.

Menulis adalah tempat aku pulang saat tak ada rumah yang bisa kutuju. Di sana, aku bisa cerita apa saja tanpa dihakimi, bisa marah tanpa ditinggal, bisa bingung tanpa harus segera menemukan jawaban. Terkadang aku menulis karena ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan bicara, hanya bisa ditumpahkan lewat kalimat. Kadang aku menulis karena ada kenangan yang terlalu rapuh untuk dibicarakan, tapi terlalu penting untuk dilupakan.

Aku suka menulis karena di sana aku bisa menjadi siapa pun, seperti anak kecil yang kehilangan arah, laki-laki yang sedang belajar memaafkan, atau hanya seseorang yang ingin duduk diam dan berkata, "Aku capek".  Menulis memberikan kebebasan untuk tidak selalu kuat, untuk tidak selalu tahu, untuk tidak selalu menjawab. Ia mengizinkanku untuk ada.
Dan mungkin, yang paling jujur, aku menulis karena aku takut lupa. Takut kehilangan versi diriku yang pernah merasa jatuh dan bangkit. 

Kata-kata menjadi arsip dari semua yang pernah aku lalui, menjadi bukti bahwa aku pernah ada, pernah terluka, pernah mencintai, pernah kecewa, dan tetap memilih untuk melanjutkan. Menulis bukan hanya tentang menciptakan tapi tentang merawat bagian-bagian kecil dari diriku yang tak bisa dijelaskan dengan logika tapi bisa dirasakan lewat kalimat.

Selama aku hidup, aku akan tetap menulis. Dan jika suatu hari aku tak lagi di sini, biarlah kata-kataku tetap tinggal, sebagai jejak, dan sebagai bukti bahwa aku pernah mencoba menjadi utuh meski lewat huruf yang bergetar.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Rabu, 12 Agustus 2026

Tidak semua rasa bisa dijelaskan dengan suara

 


Aku tidak tahu kapan menulis jadi satu-satunya cara untuk tetap waras. Dulu aku menulis karena ingin didengar. Sekarang aku menulis karena tidak tahu harus bicara dengan siapa, bukan karena tidak ada orang, tapi karena tidak semua rasa bisa dijelaskan dengan suara. Beberapa hanya bisa dinarasikan dan dibiarkan menetap di halaman yang tak pernah lagi dibuka.

Tulisan-tulisanku bukan untuk orang lain. mereka adalah tempat aku menyimpan bagian-bagian kecil dari diriku yang tidak bisa aku tunjukan di luar. Terkadang aku menulis tentang kehilangan, tentang kerinduan, tentang keikhlasan. Tidak semua orang akan mengerti semua tulisanku karena tulisanku bukan untuk dimengerti. Mereka hanya perlu ada agar aku tidak merasa sendirian di dalam kepalaku sendiri.

Jika suatu hari ada yang membaca. Aku harap mereka tidak hanya melihat kata-kata tapi usaha kecil untuk tetap bertahan, karena aku menulis bukan untuk dibaca tapi untuk tidak hancur sendirian.


Ditulis: Fanny Indra Prtama

Rabu, 29 Juli 2026

Tolong sampaikan pada mamamu, selamat ulang tahun untuk anak pertamanya




Selamat pagi ma, perkenalkan saya adalah Manusia paling keren setongkrongan Anggut, yang kebetulan berkenalan dengan anak mama. pada pagi hari yang cerah di akhir bulan Juli ini saya akan memaparkan laporan hasil pengamatan terhadap anak mama. Tujuannya adalah sebagai arsip perjalanan hidup, mungkin?

Baik, pertama-tama menurut saya dia lumayan ngeselin dalam komunikasi, dan masih sama rasanya sampai sekarang. Karenanya yang kami lakukan sepanjang tahun hanya berselisih seperti sendok dan garpu yang berbunyi di atas meja hingga makanan kami habis, sembari menunggu waktu makan berikutnya.

Sering kali saya bingung bagaimana cara berkomunikasi seperti manusia biasa tanpa melukai egonya, sering juga saya tidak peduli seperti seorang ambisius pada umumnya. Saya berusaha tidak mengkerdilkan perspektifnya, apalagi mengecilkan perasaannya, yah walaupun kadang saya suka kelepasan juga. Tapi mungkin ma, usaha-usaha saya yang seperti itu dipandangnya sebagai alur yang memang tidak setara.

Terkadang saya berpikir bahwa di masa depan dia akan menjadi Food Tester terbaik atau Chef terbaik, dia banyak tahu soal makanan ma. Dia pernah bilang kalau makanan dekat rumahnya kurang enak, trus dia pernah ngomentari makanan restoran laut yang rasanya kurang bumbu, padahal pas saya coba makanan itu sudah termasuk enak. Saya bingung kenapa dia bisa tahu kalau makanan A kurang garam, makanan B kurang bumbu, dan makanan C kurang BANYAK hahahaha. Tapi satu hal saya harus jujur di sini. Masakan dia beneran enak. Sumpah, beneran enak.

Meski begitu anak mama adalah pembaca yang baik, terkadang ia membaca hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak terpikir untuk dia baca hanya untuk bicara dengan saya, sehingga keingintahuan darinya meninggalkan impresi tersendiri. Ia juga pendengar yang baik, saya beberapa kali curhat tentang kehidupan yang tidak adil ini. Dan ada waktunya dia mendengarkan dan ada waktunya pula dia memberikan tanggapan.

Kalau anak mama nanti malam sudah pulang tolong sampaikan pesan ini ya, selamat ulang tahun Felia, semoga kamu mulai memilih sesuatu dengan penuh keyakinanmu sendiri dan menemukan senang milikmu yang lebih daripada sebelumnya.

Dan juga untuk mama, terima kasih ya ma untuk tidak memilih childfree. Semoga mama selalu menjadi tempat Felia berpulang ketika dunia terlalu bising di kepala dan telinga. 


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Sabtu, 27 Juni 2026

Obrolan pendek di bawah langit merah yang sedang mengintai



Sore itu, ia dengan buru-buru meyambutku pulang dari perjalanan jauh ke Kabupaten Lebong. Kebetulan matahari belum tenggelam hari ini.

"Ayo, kita nonton hewan yuk" ajaknya riang. Super riang. "di komputel" ejanya pelan-pelan dan belum fasih berucap komputer.

Ajakan ini tentu saja adalah sandi agar aku menemaninya nonton, biasanya ia akan bertanya banyak tentang nama hewan, mereka makan apa, dan kenapa cheetah mengejar zebra.

Kami mendirikan tenda dari selimut, bantal, dan alas kasurnya (waktu dia masih gemar ngompol). Pura-pura tamasya di dalam kamar dengan pemandangan yang bisa kami cari dari seluruh dunia.

"Itu ulan! (bulan)"

"Itu umi! (bumi)"

Kami gemar menonton One Planet. Ia terjerumus di belantara dan fauna. David Attenborough membacakan kami fabel terbaik dengan tone suaranya yang rendah. Bagi, Zea, itu adalah mantra yang menghipnotis. Bagiku yang pulang dari perjalanan jauh, suaranya seperti narasi penghantar tidur.

Magrib berkumandang di kejauhan, kami berhenti sebentar. Iseng saja, ia kutanya, "Zea punya cita-cita ketemu hewan-hewan itu kalau sudah besar?"

"Tidak, Zea mau jadi upu-upu (kupu-kupu)".
Mungkin ia ingin bisa terbang, pikirku. "Mau jadi pilot yang terbang-terbang di atas?"
"Takut, itu tinggi sekali" Jawabnya cepat.
"Zea, mau telbang di pohon dan unga-unga (bunga-bunga)


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Selasa, 26 Mei 2026

Empat warna kehidupanku


Sepanjang hidup aku punya empat warna favorit.

Pertama adalah putih, warna yang selalu mengingatkanku kepada kematian.

Warna putih bagiku sangat personal, iya selalu memberiku garis batas pengingat tentang siapa aku dan seberapa kecil aku di dunia ini. Bahkan, sebagai laki-laki pada umumnya, selain mendominasi isi lemariku dengan kaos berwarna hitam, hampir sepertiga warna pakaianku adalah putih. 

Kedua, aku suka warna kuning, karena tak kalah personal untukku. Kuning mengingatkanku pada momen patah hati ketika baru lulus sekolah.

Dulu, setelah putus dengan kekasih pertamaku, aku memutuskan untuk membeli sepasang ikan cupang bewarna kuning untuk menghibur diri yang berbulan-bulan kemudian baru kusadari ternyata dua-duanya berkelamin jantan. Meski begitu konyol, ini menjadi salah satu kisah paling memilukan sepanjang hidupku.

Ketiga adalah warna hitam, warna yang memang sudah sewajarnya disukai laki-laki. Jika kalian bertanya apa alasanku menyukai warna hitam, dengan mantap aku akan menjawab, "Aku menyukai band rock Jepang "One Ok Rock". Karena band itu identik dengan warna hitam.

Nah, yang terakhir sudah barang tentu dan tak boleh terlewatkan bahwa aku mengidolakan warna merah.

Sebenarnya ada banyak alasan kenapa aku menyukainya, yang mungkin jika ku jelaskan satu persatu akan terlalu panjang. Tapi, aku menyukai warna merah karena ia adalah representasi klub sepakbola favoritku. Liverpool. Selain itu warna merah menurutku sebagai warna keberanian. Lebih dari itu, warna merah bagiku adalah satu-satunya warna paling menenangkan dan warna paling dekat dengan pengorbanan. Pengorbanan dalam segala hal.

Oh ya, konon katanya, warna merah adalah satu-satunya pula warna yang setelah dibakar bisa berubah menjadi bentuk yang lebih indah. Aku sih percaya - percaya aja, ya.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Selasa, 12 Mei 2026

Bintang malam ini bangus banget, Nak. Tetaplah disamping Ayah, ya..

 


Nak, tulisan ini sebagai pengingat, malam ini Bintang di atas rumah kita indah banget. Indah seperti wajahmu, indah seperti wajah Ibumu. 

Nak, Bintang yang kamu lihat malam ini adalah ia yang terbakar dan menyala sejak ratus jutaan tahun yang lalu. Artinya, cahaya yang kamu terima malam ini adalah hasil dari perjalanan cahaya yang ber-ratus-juta-an tahun ke belakang. Itu jarak.

Nak, mungkin Bintang yang kamu lihat malam ini, ia sudah lenyap. Hangus membakar dirinya sendiri. Atau sudah berpindah dari posisinya sejak ia mengirim cahaya.

Nak, sadarkah, dari cahaya Bintang itu, kamu sudah melipat satu dimensi. Masa lalu.

Nak, bukankah butuh kesabaran yang amat panjang dan tekun untuk tetap meneruskan cahaya?

Nak, rumahmu adalah Bumi, adalah Bimasakti, adalah Gugus Virgo, dan Gugus Besar Laniakea. Pergilah sampai kemana saja, itu rumahmu. Berfikirlah kemana pun mau, itu juga rumahmu.

Nak, Bintang itu besar. Menjadi kecil karena jarak. Sebab kamu akan lebur hancur jika semakin dekat.

Nak, Bintang itu bukan sekadar amat banyak menghias angkasa. Tak perlu terbang ke sana ke tempatnya berada. Itu percuma. Ia sudah tiada.

Nak, seperti Bintang, bersabarlah oleh tiga hal;

1. Cahayamu butuh waktu untuk sampai kepada manusia, 2. Dan relakanlah cahayamu dinikmati manusia yang cuma tahu soal menyanyi tentang ingin terbang tinggi ke tempatmu berada, dan yang terakhir, 3. Ayah mengajakmu melihat Bintang malam ini supaya kamu tahu bahwa meskipun kita hanya bagian kecil dari alam semesta yang sangat luas, kita tetap memiliki kemampuan untuk menciptakan makna. Kehidupan manusia dapat dipahami melalui pencarian dan pengalaman yang kita jalani, serta bagaimana kita berinteraksi dengan dunia sekitar. 

Nak, begitulah hebatnya ciptaan Tuhan yang bisa membuat Bintang malam ini begitu indah dan menakjubkan. 

Oh ya satu lagi, Bintang malam ini lebih banyak, lebih luas dari apa yang kita ketahui. Tak terhitung, menyimpan jutaan misteri, ketakutan, keindahan dan hal-hal luar biasa yang tak mampu kita bayangkan sebelumnya.

Manusia hanyalah setitik kecil bagian dari Bintang itu. Ibarat bola basket, manusia adalah sebutir debu nano yang menempel pada permukaan bola tersebut. Sangat amat kecil, bukan? 

Namun, tahukah kamu betapa beruntungnya Ayah karena dipertemukan dengan seseorang yang tanpa Ayah sadari telah menjadi pusat kehidupan Ayah, KAMU.

Yaudah, nak. Ayo kita masuk, ini sudah terlalu malam. Ibu sudah menunggu kita di dalam. Kalau besok langit sedang bagus, Ayah akan ceritakan lebih detail luasnya Alam Semesta yang buat kamu akan takjub indahnya ciptaan Tuhan.

Tidurlah di malam yang gelap.

Ditulis: Fanny Indra Pratama

Senin, 04 Mei 2026

Kurangnya konsistensi adalah kelemahan yang dimiliki oleh Fanny Indra Pratama



Kenapa ya masa kecil itu rasanya unik banget? Engga banyak yang harus dipikirin dan dipusingin. Aku engga pernah ngerti, kenapa hampir setiap orang tua pengin anaknya cepat dewasa, membiarkan semua berjalan sesuai dengan waktunya itu rasanya lebih menyenangkan ga sih? 

Masa kecilku penuh dengan banyak hal dan banyak cita-cita. Aku menghabiskan masa kecilku dengan main bola di lapangan tanah merah bersama temen-temen dekat rumahku dulu, saking cintanya aku sama sepak bola aku pernah dulu bercita-cita jadi pemain bola. Tentang bermain warnet, ada masa di mana aku rela engga jajan dan nabung uang saku sekolah cuma buat main warnet, aku pernah gila banget main warnet. Kalau aja dulu e-sports sudah sebesar dan se-menjanjikan sekarang untuk dijadikan sebagai karir, kayanya aku dulu bakal milih main game aja seumur hidup.

Ada masanya aku berhenti main warnet dan mulai iseng-iseng nge-band, sekitar akhir SMP setiap malem aku sering nyewa studio buat iseng cover-cover lagu Green Day, Blink-182, Ramones, macem-macem. Terus ngeband ini sempet hiatus karena temen-temen band dan aku akhirnya punya kesibukan masing-masing. Ada lagi masanya aku suka banget main Mobil Remote Control (RC), aku sampe ikut lomba RC tingkat nasional di tiga Kota besar.  Di tingkat daerah sudah beberapa kali naik podium dan masuk tiga besar. Aku berhenti bermain RC sehabis kalah lomba tingkat nasional itu, patah hati lalu berhenti, sekarang kalo liat Mobil RC bawaanya pengin aku telen aja tuh Mobil.

Aku kadang iri banget sama orang-orang yang bisa konsisten dan disiplin sama jalan hidupnya. Aku iri sama orang-orang yang dari kecil emang udah tau mereka besar mau ngapain, ada temenku yang dari kecil udah jatuh cinta dengan tentara, dia tetep disiplin dan konsisten buat jadi tentara dan akhirnya saat dewasa cita-citanya tercapai. Ada juga temenku yang dari kecil hobi banget main basket dan konsisten terus, meskipun dia sekarang tidak bekerja sebagai pemain basket di klub besar, tapi dia sekarang kerja menjadi tim marketing di salah satu klub basket besar di Indonesia. Aku yakin kedua temenku ini sangat mencintai pekerjaanya dan hidupnya.

Aku iri banget sama orang yang konsisten dan disiplin di satu bidang dan menjadi hebat banget di salah satu bidang itu. Aku tuh anaknya banyak banget mau-nya dan susah buat konsisten, ambil contoh aja dari semua kegiatan yang aku lakuin, kalau aja ada satu hobby yang aku lakukan dengan konsisten dan disiplin mungkin aku bisa menjadikan itu karir dan aku akan mencintai banget hidupku. Terus apa cinta dan suka banget sama banyak hal ini justru yang ngebuat aku engga konsisten? Aku pernah bekerja sebagai pegawai Toko Buku,  sebagai Admin Operator, bahkan pernah hampir menjadi Pedagang. Hidupku bener-bener random banget dan engga saling bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.

Hidup itu kan didesain agar ia dapat digunakan, ditinggali, dirasakan, dimaknai dan ditinggalkan. Aku sampai sekarang masih belum merasakan hidup yang sebenarnya, aku sering ngerasa engga yakin siapa diriku dan mau apa aku sebenernya cuman ya aku selalu berusaha nyembunyiin di belakang kepala; keluar dari deretan “hal-hal apa lagi yang harus aku lakuin?”

Siang ini aku lagi ngantuk banget di kantor dan akhirnya coba deh dikit-dikit ngetik blog lagi biar engga ngantuk-ngantuk banget, sambil ngetik ini aku mikir, kita tuh sebagai manusia hanya bisa berusaha mengisi hidup dengan segala kesalahan dan keajaiban yang mampu kita ciptakan dan kemudian di satu waktu yang tepat, kita meninggalkannya. Kita sebagai manusia, merasa hidup kita menjadi begitu sangat berharga meskipun dengan segala ke-randoman yang kita ciptakan itu ya karena kita tau kalau hidup itu, terlampau singkat.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Jumat, 17 April 2026

Malam yang dingin di Kota Jogja


Sekitar 6 tahun yang lalu, untuk kesekian kalinya aku datang ke kota ini, ntah untuk apa? Mungkin untuk melarikan diri dari perasaan. Lagian, siapa orang yang rela pindah ke daerah dengan UMR yang lebih rendah dari kota asalnya? Jika tidak tentang perasaan?

Kota ini nyaman. Ia menawarkan hidup yang tidak cepat, jalanan yang tidak macet, sehingga memberikan waktu malas yang lebih lama. Di sudut kota yang tidak banyak turis tahu, ia menawarkan kesunyian. Dihadirkannya ketenangan untuk siapa saja membutuhkan.

Tapi kota ini tidak pernah benar-benar menerimaku. Dia menawarkan keramahtamahan, seperti tuan rumah kepada tamunya, mengijinkanku untuk tinggal selama yang ku mau, tapi tetap menjaga jarak dariku. Seorang tamu selalu punya takdir untuk pulang.

Setiap orang butuh rumah, bukan hanya untuk singgah, tapi juga untuk diterima baik buruk tanpa kecuali. Kita ini manusia, tidak akan pernah sempurna, tapi tetap punya hak untuk diterima, bukan?

Rasa-rasanya kesunyian ini sudah berubah menjadi kesendirian. Ntah apa yang terjadi tapi liburan telah usai. Perasaan telah utuh kembali. Ntah kapan, tapi aku memang harus pulang.


Jogja, dini hari, 17 April 2026

Ditulis: Fanny Indra Pratama


Jumat, 20 Maret 2026

Hari Raya Hari Bahagia



Alhamdulillah.

Ramadhan tahun ini rasanya menikmati momen ibadah lebih baik lagi dari sebelumnya. Mungkin karena bertambahnya usia, mungkin karena kasih sayang Allah yang berlimpah akhirnya berada di titik menerima dengan hati yang lebih lapang atas semua ketetapan-Nya.

Alhamdulillah, aku masih memaknai hidup dengan perspektif baru dan engga melulu soal cinta dunia yang dikejar terus menerus.

Alhamdulillah, walaupun kue lebaran di rumahku tidak sebanyak tahun kemarin, tapi semoga ibadah ramadhan ku lebih berkualitas dari tahun kemarin dan dicatat sebagai amalan baik disisi-Nya.

Mohon maaf lahir batin semuanya..


Ditulis: Fanny Indra Pratama